Akhirnya hari itu datang juga. Setelah berpacaran selama 3 tahun, Rendy kekasihku resmi melamar. Dan hari ini dia berencana mengajakku berkunjung ke rumah orangtuanya di Surabaya. Aku dan Rendy sama-sama tinggal di kota Malang. Kami sama-sama bekerja di sana.
Aku sama sekali nggak punya family disini. Satu-satunya keluargaku adalah Oma Nonik. Beliau adalah orang yang mengasuhku dari kecil. Sebenernya aku belum bisa dibilang yatim piatu sih! Karena aku sendiri nggak tau apa orangtuaku masih hidup atau sudah meninggal. Oma Nonik menemukanku 19 tahun yang lalu. Waktu itu usiaku masih 5 tahun. Satu-satunya benda yang kubawa waktu itu adalah sebuah liontin berbentuk hati bertuliskan Cinta. Itu sebabnya Oma Nonik memanggilku Cinta.
“Nah! Akhirnya sampai juga”, kata Rendy sambil memasukkan mobilnya di sebuah halaman rumah yang cukup besar dan megah.
“Ini rumah kamu, Ren?”, tanyaku terkagum-kagum.
“Bukan. Ini rumah orangtuaku”, jawab Rendy.
“Ya sama aja kan? Rumah mereka rumah kamu juga. Iya kan?”.
Rendy tersenyum manis. “Udah… Kapan turunnya nih kalo ngobrol terus?”
“Oiya, sampe lupa!”, jawabku sambil membuka pintu mobil.
“Kamu tuh kebiasaan ya? Jadi cewek jangan terlalu mandiri juga kali…”, kata Rendy tiba-tiba.
“Maksud kamu?”
“Aku kan juga pengen sekali-kali memperlakukan kamu seperti seorang putri… Membukakan pintu mobil, kemudian mengulurkan tangan dan…”
“Udah-udah! Nggak usah diterusin! Sok romantis banget sih!”, potongku sambil tertawa geli.
Rendy kemudian mengangkat alisnya dan memanyunkan mulutnya. Biasanya kalo udah gitu dia selalu minta cium.
“Ren, ini di rumah kamu lho…”, kataku mengingatkan.
“Becanda sayang… Masuk yuk!”, ajak Rendy seraya membawa tas koperku yang sudah diambilnya dari bagasi.
“Ini rumah kamu, Ren?”, tanyaku terkagum-kagum.
“Bukan. Ini rumah orangtuaku”, jawab Rendy.
“Ya sama aja kan? Rumah mereka rumah kamu juga. Iya kan?”.
Rendy tersenyum manis. “Udah… Kapan turunnya nih kalo ngobrol terus?”
“Oiya, sampe lupa!”, jawabku sambil membuka pintu mobil.
“Kamu tuh kebiasaan ya? Jadi cewek jangan terlalu mandiri juga kali…”, kata Rendy tiba-tiba.
“Maksud kamu?”
“Aku kan juga pengen sekali-kali memperlakukan kamu seperti seorang putri… Membukakan pintu mobil, kemudian mengulurkan tangan dan…”
“Udah-udah! Nggak usah diterusin! Sok romantis banget sih!”, potongku sambil tertawa geli.
Rendy kemudian mengangkat alisnya dan memanyunkan mulutnya. Biasanya kalo udah gitu dia selalu minta cium.
“Ren, ini di rumah kamu lho…”, kataku mengingatkan.
“Becanda sayang… Masuk yuk!”, ajak Rendy seraya membawa tas koperku yang sudah diambilnya dari bagasi.
sumber : http://cerpenmu.com/cerpen-cinta/karena-cinta-2.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar